Kamis, 30 Juli 2020

Flintzya cantikaa, 11

H. Komarudin Kudia S.IP yang merupakan seorang wirausahawan sukses di bidang kerajinan tekstil batik di Indonesia. Beliau lahir pada tahun 1968 di Desa Trusmi Plered Cirebon. Daerah ini sendiri adalah sebuah sentra industri batik Cirebon yang sudah terkenal hingga manca negara. Oleh karena lingkungannya tersebut itulah pada akhirnya di diri beliau mengalir talenta seni untuk mengembangkan batik hingga sekarang. Awalnya beliau hanyalah pengrajin batik yang bekerja pada orang lain dan mengikuti orang tuanya menjual batik ker berbagai kota di daerah Jawa. Awalnya, beliau tak ingin melanjutkan usaha di bidang ini. Beliau malah beralih ke bidang komputerisasi setelah kuliah di ITB. Jiwa bisnis itu kembali muncul setelah beliau menikah dan ternyata sang istri juga memiliki latar belakang kuat mengenai batik. Pada tahun 1997, berawal dari Lomba Cipta Selendang Batik Internasional, jalan itu muncul. Saat itu beliau berhasil menjadi juara I dan harapan I untuk beberapa kategori yang diikutinya. Dengan menjadi juara di sana, beliau akhirnya tertantang untuk membuat desain batik yang baru dan menjalankan usaha batiknya secara profesional. Apalagi ada banyak dukungan yang beliau dapat seperti dari pimpinan Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Oleh MARTHYN X MIPA 2

Rabu, 29 Juli 2020

Sunyoto, Pengusaha Mebel Rotan Ini Produknya Kian Mendunia

Sunyoto, seorang pengusaha mebel dari kayu rotan tak menyangka, bisnisnya yang telah dijalani selama 20 tahun sampai saat ini masih bisa tetap eksis. Rona bahagia Sunyoto pun tak bisa disembunyikan lagi dari raut wajahnya. Di bawah bendera Mutiara Rotan, produk yang dihasilkan Sunyoto kini bukan hanya dikenal di Indonesia tapi juga mendunia. Mebel-mebel berkualitas miliknya dikirim ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan ekspor, serta pabrik-pabrik besar di sejumlah wilayah di Indonesia. Kisah sukses Sunyoto membangun bisnis kerajaan mebel telah memberikan warna dan cerita sendiri bagi setiap pelaku UMKM di daerahnya. Saat ditemui di rumahnya, warga Desa Trangsang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini bercerita tentang usahanya merintis bisnis mebel yang dimulai dari modal Rp 0. Krisis moneter pada 1998, membuat ia harus berhenti bekerja sebagai buruh di pabrik mebel. Sadar bahwa dirinya memiliki bakat dan kreativitas merakit mebel, ia pun mencoba keberuntungannya dengan membuat usaha sendiri di samping rumahnya. “Saya memang pernah berpikir, tidak mau selamanya menjadi buruh. Kebetulan waktu itu krisis moneter. Tahun 1998, saya berhenti bekerja, dan mulai mencoba membangun usaha baru di dunia yang sama dengan modal nekat, alias modal nol rupiah. Alhamdulillah, sampai saat ini terus berkembang," ujarnya. Di masa-masa sulit itu, Sunyoto hanya mengambil pesanan dari sejumlah pabrik yang bahan bakunya juga diambil dari perusahaan tersebut. Ia kerjakan dengan tangan sendiri tanpa karyawan. Pelan-pelan dari hasil tabungan yang ia simpan, Sunyoto mulai membeli bahan baku sendiri secara kecil-kecilan. Ia lalu merekrut empat karyawan. Ia yakin bisnisnya akan terus meningkat, karena sudah memiliki banyak jaringan dengan sejumlah pabrik. Hanya saja, salah satu kendalanya ada di modal. Dari situ, Sunyoto memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman modal dari bank konvensional. Namun karena bunganya terlalu tinggi, ia tak mau melanjutkan pinjaman. Untuk melanjutkan usahanya, ia kemudian beralih ke BPR Kartasura Makmur dan mendapatkan pinjaman bunga lunak sebesar Rp 50 juta. Pinjaman bunga lunak ini merupakan program dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB - KUMKM), yang bekerja sama dengan sejumlah BPR di Tanah Air sebagai lembaga penyalur. Sunyoto tertarik mengajukan pinjaman, karena bunganya jauh lebih murah dibandingkan bank konvensional, yaitu 0,85 persen per bulan. Pinjaman modal itu dimanfaatkannya untuk mengembangkan bisnis, terutama untuk menambah bahan baku dan peralatan pabrik. Bermitra dengan BPR Kartasura Makmur pada 2014, kini bisnis Sunyoto kian besar dan berkembang pesat. Karyawan pun bertambah menjadi 24 orang. Pasarnya tidak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri. Permintaan pesanan pun terus meningkat. “Permintaan itu ada yang dari Jerman, Australia, Kanada dan Prancis. Jenisnya macam-macam, ada kursi, meja, keranjang bayi, ada juga peti mati. Kita kirim melalui pabrik-pabrik yang sudah bermitra lama dengan kita. Dalam satu bulan, kita bisa kirim satu kontainer," ujar Sunyoto. Kreativitas menciptakan inovasi baru adalah strategi yang terus dibentuk oleh Sunyoto untuk melanjutkan usahanya agar terus berkembang. Ia merasa harus mampu membuat pesanan sesuai dengan yang diinginkan pembeli. Hebatnya, untuk menciptakan inovasi baru, Sunyoto dan seluruh karyawan belajar secara otodidak. “Yang penting kan kita sudah punya ilmu dasarnya. Tapi memang kalau modelnya baru, kita harus eksperimen dan kadang butuh waktu agak lama. Semua tidak ada masalah, bisa kita pelajari," ujar lelaki yang hobi bermain sepeda itu. Desa Trangsang sudah lama dikenal sebagai desa wisata kampung rotan. Mayoritas warga bekerja sebagai pengrajin rotan. Sunyoto melihat, prospek bisnis mebel rotan ke depan akan terus maju dan berkembang. Apalagi permintaan pasar terus meningkat. "Zaman memang sudah semakin modern, tapi kecenderungan orang suka terhadap barang yang unik-unik dan ini tidak akan mati, termasuk kerajinan tangan. Yang penting kreasi kita saja," tandasnya. Nama:Adhika sumber:https://www.suara.com/bisnis/2019/04/10/111230/sunyoto-pengusaha-mebel-rotan-ini-produknya-kian-mendunia

kisah sukses andra raup omzet

Jualan Furniture Dari Kayu Bekas, Andra Raup Omzet Rp 12 Miliar/Tahun Andra Prasetyo bisa dibilang merintis bisnisnya yang bernama Pangjati Rustic Furniture & Crafts ini tanpa modal. Ia hanya memanfaatkan limbah kayu bekas dan ranting bekas untuk membuat kerajinan tangan. Produk kerajinan tangan yang dibuat contohnya meja, kursi, laci, lemari, dan lain sebagainya. Tak hanya laris manis di dalam negeri, produk-produk buatan Anda ini pun laris manis di Eropa. Yunani, Belanda, dan Jerman merupakan negara-negara yang menjadi langganannya. Tak heran jika omzet bisnisnya ini mencapai milyaran setiap tahunnya. https://www.kaskus.co.id/thread/583e9e28d44f9f885d8b456a/5-pengusaha-ini-sukses-karena-barang-bekas-inspiratif-banget-gan stevhani olivia x mipa 2

Kisah sukses H. Santosa

Indonesia memang sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu negara penghasil batik terkemuka di dunia. Hal itu tidak terlepas dari kiprah ribuan pengusaha batik di tanah air yang selama puluhan tahun menggeluti usaha tersebut. Namun dari ribuan pengusaha batik itu, hanya segelintir pengusaha saja yang berhasil mengembangkan usahanya dengan membangun citra mereknya sendiri hingga dikenal di pasar mancanegara. Salah satu pengusaha batik yang kini berhasil menyandang nama besar itu adalah H. Santosa, juragan batik asal kota Solo, Jawa Tengah yang telah berhasil membangun dan mengembangkan industri batik dengan merek dagang ‘Batik Danar Hadi’. Masyarakat Indonesia dan para pecinta batik dunia mengenal merek batik Danar Hadi karena memiliki kualitas tinggi sehingga menempatkan merek batik ini di jajaran elit di pasar batik nasional maupun global. Namun apa dan bagaimana riwayat perjalanan usaha serta kunci rahasia sukses H. Santosa dalam membangun dan mengembangkan Batik Danar Hadi? Ketika ditemui tim redaksi Majalah Kina di kediamannya di Solo, H. Santosa menuturkan perjalanan sejarah perusahaannya yang dia bangun bersama istrinya mulai dari nol. H. Santosa (kini berusia 64 tahun) mulai merintis usaha Batik Danar Hadi pada tahun 1967, pada usia 26 tahun, segera setelah menikahi wanita idamannya, Danarsih. Nama istrinya itu pula yang memberikan inspirasi kepada Santosa dalam memberi nama usaha batiknya itu dengan mengambil dua suku kata pertama nama istrinya dan diembel-embeli dengan nama depan bapak mertua (ayah istrinya). Jadilah nama ‘Batik Danar Hadi’ sebagai merek batik produksi Santosa. Status Santosa muda ketika memulai usaha itu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun desakan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap keluarga telah mendorong Santosa untuk lebih memfokuskan perhatiannya kepada usaha batik yang baru saja ia dirikan. Kegiatan penyusunan skripsinya yang sudah mencapai tahap akhir pun terpaksa ia tinggalkan begitu saja. Dunia usaha batik memang bukan barang baru bagi Santosa. Sebab kakeknya bernama Wongsodinomo juga memilik usaha batik walaupun usaha batik yang digeluti kakeknya lebih cenderung mengarah ke arah seni batik. Selain itu, istri Santosa juga berasal dari keluarga pengusaha batik. Dengan berbekal pengalaman keluarga yang pernah ia saksikan dalam mengelola usaha batik ditambah dengan kreatifitas, inovasi dan kemauan keras serta pengetahuan manajemen perusahaan yang diperolehnya selama duduk di bangku kuliah, telah memantapkan tekad Santosa untuk menggeluti bidang tersebut. Keputusan Santosa untuk terjun ke dunia usaha batik ketika itu sebetulnya dapat dinilai merupakan keputusaan yang sangat berani. Sebab situasi ekonomi pada saat itu sedang tidak kondusif bagi usaha perbatikan dimana banyak usaha batik yang gulung tikar akibat permintaan pasar yang sedang lesu. Namun kondisi itu tidak menyurutkan tekad Santosa untuk mengembangkan usaha batiknya, karena Santosa yakin usaha batik di dalam negeri akan kembali bergairah apabila diberi sentuhan-sentuhan inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar. Keyakinan Santosa tersebut ternyata terbukti. Dengan berbagai sentuhan disain dan motif baru hasil pengembangan Santosa, pasar batik di dalam negeri kembali bergairah. Setahap demi setahap merek Batik Danar Hadi mulai dikenal konsumen. Permintaan produk batik dengan merek Batik Danar Hadi pun terus mengalami peningkatan hingga akhirnya merek Batik Danar Hadi dikenal secara luas di masyarakat. Sukses yang dicapai Santosa ini kemudian menjadi acuan para pengusaha batik lainnya. Secara perlahan tapi pasti, para pengusaha batik baru pun mulai bermunculan. Bahkan para pengusaha batik yang sempat menutup usahanya pun kembali tergerak untuk membuka kembali usaha batiknya. Santosa memulai usaha batiknya dengan mempekerjakan 20 orang karyawan yang terdiri dari pembatik, pencelup dan penggambar motif. Kegiatan usaha batik Santosa diawali dengan memproduksi batik tulis Wonogiren. Di luar dugaan, batik tulis motif Wonogiren produksi perdana Santosa dengan merek Batik Danar Hadi laku keras di pasar. “Batik tulis Wonogiren ini ternyata sangat disenangi pasar. Kami menerima pesanan ketika itu sampai ribuan kodi,” kata Santosa mengenang masa-masa awal kegiatan usahanya. Setelah sukses dengan batik tulis Wonogirennya, untuk mengembangkan industri batiknya sekaligus untuk meningkatkan kemampuan produksi batik yang makin diminati pasar, maka pada tahun 1968 Santosa membuka perkampungan batik –mirip sentra industri kerajinan batik yang berada di perkampungan penduduk di sekitar rumah Santosa—yang dikelola oleh PT Batik Danar Hadi. Kemudian pada 1970 Santosa juga mendirikan sentra usaha batik di Masaran, Sragen, Jawa Tengah. Selanjutnya pada tahun 1975 Santosa juga mendirikan sentra usaha batik di Pekalongan yang memproduksi berbagai jenis dan motif batik. Pendirian sentra usaha batik ini tidak lepas dari adanya tuntutan pasar sejalan dengan makin meluasnya penggunaan kain batik untuk pakaian. Hal itu juga sangat terkait dengan mulai masuknya kain batik ke dunia mode (fashion), khususnya penggunaan kain batik dalam pembuatan kemeja pria dan berbagai pakaian wanita mulai dari atasan, rok/gaun, baju pesta dll. Untuk mempromosikan penggunaan kain batik untuk pakaian, Santosa pun mulai menggelar sejumlah kegiatan peragaan busana (fashion show) yang menggunakan kain batik seperti di sejumlah hotel di Singapura, di Hotel Indonesia dan Hotel Borobudur Jakarta dll. Guna lebih mengefektifkan kegiatan peragaan busana dalam rangka memperkuat kegiatan promosi penggunaan kain batik, Santosa melakukan kerjasama dengan sejumlah disainer seperti Hari Darsono dan Prayudi dalam menggelar sejumlah fashion show. Selain itu, Santosa pun mulai melirik bisnis ritel kain dan pakaian jadi batik dengan membuka sejumlah outlet seperti di Jl. Raden Saleh dan kawasan Tebet, Jakarta (tahun 1975). Selain di Jakarta sendiri (kini juga ada di Jl. Melawai Raya dan Jl. Wijaya I), kini outlet-outlet tersebut sudah berkembang ke berbagai kota lain seperti Semarang, Yogyakarta, Medan, Surabaya, Bali dll., bahkan Santosa pun sempat membuka sejumlah outlet di luar negeri, seperti di Singapura dan di Jedah. Kegiatan eskpor batik pun sudah digeluti Santosa sejak lama dan kini sudah ada pembeli tetap berbagai produk batik Danar Hadi di luar negeri. Kegiatan ekspor batik yang kini dilakukan Santosa secara rutin antara lain ke Amerika Serikat, Italia dan Jepang. Dengan terus berkembangnya usaha batik, baik di dalam maupun di luar negeri, maka jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan Santosa pun terus meningkat dari awalnya hanya 20 orang karyawan, kini menjadi lebih dari 1.000 orang di seluruh tanah air. Santosa mengaku dalam proses penciptaan kreasi-kreasi dan inovasi batik, dirinya tidak pernah mengerjakannya sendirian tapi selalu bekerjasama dengan para disainer di perusahaannya. “Saat ini kami memiliki sekitar 30 tenaga disainer. Mereka adalah para disainer professional dan sangat trampil memanfaatkan teknologi komputer dalam menciptakan kreasikreasi dan inovasi baru di dunia perancangan mode,” tutur bapak dari empat anak ini. Selain itu, dalam mempertahankan kualitas produk batiknya, Santosa juga selalu menerapkan konsep batik asli dalam kegiatan produksi batik Danar Hadi. Sebab, berdasarkan pengalaman, banyak pengusaha batik tidak dapat bertahan lama karena mereka tidak menggunakan proses batik yang asli di samping tidak mengikuti trend permintaan pasar baik menyangkut motif maupun warna. Proses batik yang asli itu adalah metode batik Indonesia mulai dari penggambaran motif, penempelan lilin, pencelupan dst. Dengan proses batik asli tersebut Batik Danar Hadi sendiri kini memproduksi berbagai jenis batik mulai dari batik bermotif pedalaman (kraton) sampai dengan batik pesisiran. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, Santoso mengaku yakin batik Indonesia masih bisa terus berkembang asalkan industri batik di dalam negeri bisa mengikuti selera pasar. Karena batik itu bukan hanya untuk dipakai sendiri tapi oleh konsumen. Karena itu, industri batik harus mengikuti selera konsumen. “Saya tidak khawatir dengan batik dari luar negeri karena perkembangan motif dan industri batik di Indonesia sudah jauh lebih maju dari luar negeri. Kita juga tidak perlu takut karena teknik batik Indonesia jauh lebih unggul dari teknik batik luar negeri. Namun demikian, kita harus terus berupaya untuk maju dan mengikuti trend dan selera pasar. Selama itu kita laksanakan dengan baik, maka kita tidak perlu khawatir dengan batikbatik dari negara lain,” tegas Santosa. Industri batik Indonesia juga tidak boleh dibiasakan untuk meniru, sebaliknya harus selalu terpacu untuk membuat sesuatu yang baru. Karena aspek originalitas itu selalu mempunyai tempat tersendiri di pasar. Namun demikian Santosa mengaku tidak keberatan apabila ide-ide batiknya ditiru orang lain. “Malah saya bersyukur kalau hasil kreasi saya ditiru orang lain. Karena, itu berarti ide-ide saya itu berguna bagi orang lain.” Untuk melestarikan budaya dan seni batik nasional, pada tahun 1999 Santosa mendirikan museum batik di kota Solo yang lokasinya persis di samping rumah kediamannya. Museum batik Danar Hadi itu kini memiliki lebih dari 10.000 koleksi batik dari berbagai daerah di seluruh Indonesia disamping koleksi motif batik produksi Danar Hadi sendiri. Faktor kesuksesannya : •karena mencintai pekerjaannya •pantang menyerah dan trus berusaha mencoba hal hal yang baru

Kisah Sukses Titik Winarti Mengembangkan Bisnis Tiara Handicraft Bersama Para Difabel

Mungkin di zaman sekarang ini tak banyak orang yang peduli dengan orang-orang difabilitas atau orang cacat. Beberapa orang bahkan enggan menggunakan tenaga nya untuk mengisi posisi dalam sebuah bisnis atau usaha. Namun hal tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh Titik Winarti yang merupakan seorang pemilih usaha Tiara Handicraft. Sebagian besar dari Anda mungkin cukup asing dengan bisnis yang satu ini. Tahukah Anda bahwa ada salah satu hal yang membedakan usaha ini dengan bisnis lainnya yaitu terkait tenaga kerja yang digunakan. Seperti yang diketahui Titik Winarti yang merupakan pemilik bisnis Tiara Handicraft memberikan kesempatan kepada para difabel untuk bekerja di tempatnya. Tentu saja Titik winarti memiliki alasan mengapa ia mengizinkan para difabel untuk bekerja di perusahaannya. Tak lain tak bukan yaitu karena semakin banyaknya kasus diskriminasi yang dilakukan oleh banyak perusahaan pada kaum difabel. Umumnya para difabel ini jarang mendapatkan tempat di perusahaan sehingga hal tersebut membuat hal yang beda dengan memberikan para difabel tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kisah sukses Titik Winarti bersama para difabel, simak ulasannya berikut ini. Profil Titik Winarti Sebelum mengetahui perjalanan karier bisnis Titik Winarti, kurang lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui profil dari pengusaha handycraft yang satu ini. Sejak kecil Titik Winarti atau biasa disapa Titik ini memang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seni. Pebisnis yang lahir di Surabaya 11 Maret 1970 lalu memang sudah berada di lingkungan yang sangat mendukung. Bagaimana tidak ayah kandung Titik yaitu Bapak Badowi dan ibunya telah memiliki usaha kerajinan kayu di rumah. Sehingga tidak heran jika jiwa-jiwa bisnisnya sudah bisa terlihat ketika dia memasuki jenjang sekolah SMA. Selama di SMA Titik pun membuat berbagai macam kerajinan atau karya seni yang dijual langsung ke teman-temannya. Kemudian Karya seni buatannya tersebut sangat disukai oleh teman-temannya sehingga ia dibanjiri banyak orderan. Awal Perjalanan Bisnis Titik Winarti “Tiara Handycraft” Untuk memulai bisnis yang sudah sebesar ini tentu saja tidaklah muda. Namun hal tersebut justru membuat Titik semakin semangat dalam mengembangkan usahanya. Awal mula titik menjalankan bisnis ini dengan menjadikan ibu-ibu di sekitar rumah sebagai karyawannya. Tujuan utamanya saat itu adalah untuk memberdayakan masyarakat sekitar khususnya para ibu-ibu. Namun bisnis yang mulai dijalankannya tersebut tidaklah berjalan mulus. Pada tahun 1998 usaha yang dijalankan mulai mendapatkan hambatan dengan adanya pesaing yang menjiplak karyanya. Saat itu para karyawan yang sudah dilatih di sabot oleh perusahaan yang menjiplak karyanya dengan iming-iming gaji besar. Sehingga pada saat itu, usaha yang sudah dijalankan Titik pun mengalami bangkrut hingga membuatnya kehilangan hampir semua karyawannya. Namun hal tersebut tak lantas membuat Titik menyerah. Untuk menjalankan bisnisnya tersebut Titik memutuskan untuk mempekerjakan orang-orang yang memiliki “keistimewaan” pada fisiknya. Meski pada awalnya Titik merasa sangat kesulitan untuk melatih para tuna daksa, ia tetap semangat dan sabar karena yakin pasti ia melewatinya. Kesuksesan Yang di Raih Titik Winarti Tahukah Anda bahwa tujuan dan misi utama Titik mengajak para difabel bukanlah untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Melainkan untuk membuat mereka lebih produktif dan dihargai di lingkungan masyarakat. Dengan begitu para difabel tidak akan merasa minder atau tidak percaya diri ketika berada di lingkungan masyarakat. Dengan ketekunan dan kesabaran dalam menjalankan bisnisnya bersama para difabel, akhirnya titik mencapai kesuksesan seperti sekarang ini. Bahkan pada tahun 2002 lalu Titik berkesempatan untuk mengikuti pameran yang di adakan di Jeddah dan Singapura. Dari pameran inilah sepak terjang bisnis titik dimulai. Dari pameran itulah Titik menemukan rekan bisnis yang membuat bisnis nya semakin berkembang hingga pasar luar negeri. Selain produknya mampu bersaing di pasaran internasional, Titik Winarti pun juga berhasil menjadi pemenang dalam event Microcredit dengan persaingan yang sangat ketat. Dari kisah sukses Titik Winarti diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam menjalankan sebuah usaha pastikan untuk selalu yakin dan kerja keras. Dengan memberdayakan para difabel Titik Winarti membuktikan bahwa dia bisa mecapai kesuksesan seperti sekarang ini. Semoga mengisnpirasi! https://101red.com/prime/motivasi/kisah-sukses-titik-winarti-mengembangkan-bisnis-tiara-handicraft-bersama-para-difabel

Kisah Sukses Ivan Yahya, Pemanfaat Kayu Bekas menjadi Omset Ratusan Juta.

         kisah Ivan Yahya Adhi Teja, seorang enterpreneur muda yang mengembangkan bisnis kerajinan kayu dengan memasarkannya di marketplace Tokopedia.

         Berawal ketika Ivan pernah mendapati bahan baku kayu yang sudah berjamur karena terkena air hujan. Terlihat bercak-bercak biru tua di kayu yang akan digunakannya untuk workshop.

        Siapa sangka kayu yang cacat tersebut justru datang ide baru untuk desain produk yang justru mendatangkan peminat.


      Setelah menyelesaikan studinya di jurusan desain produk di Australia dan kembali ke Indonesia ia mulai memikirkan material dan ide bisnis desain bersama teman-temannya.


     Ia berkesempatan mengunjungi Jawa Tengah dan menemui sisa-sisa batang kayu berkualitas tinggi tergeletak menjadi limbah yang jika diolah akan bisa bersaing dengan produk luar negeri.


    Ide inilah yang kemudian menjadi cikal bakal IZEMU, sebuah brand yang digagas Ivan dan teman-teman untuk produk kerajinan kayu produksinya.


   Awalnya, dipasarkan dengan mengikuti berbagai bazaar atau pameran sebelum di perluas melalui Tokopedia dengan omzet puluhan juta perbulan.


Sumber Informasi:

https//amp.kompas.com/tekno/read/2017/12/22/15140037/kisah-sukses-usaha-online-berawal-dari-kayu-sisa-jadi-omzet-puluhan-juta

Sumber foto:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLToC7y4GD8ZT_vq1q7hHyg0U0foo2_gN2lqosfzv54uC7WCfN5yWvSzLIaIfrrF3dD2I2OOgX25NWijhCcdd8DijnvINNQrhWvG00_nqAKZ2pOS-WhdLRzwNkj1ki3FIVLWaBJu59Kocd/s1600/izemu.PNG

Made by Willsen,10 MIPA 2

Nur Handiyah : Dari Sampah Kulit Kerang Menjadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah.

Biodata Nur Handiyah : 
Nama : Nur Handiyah
Tempat lahir : Banyumas, Jawa tengah
Umur : 49 tahun
Mulai usaha : pada tahun 2000
Status : sudah menikah

Di tangan Nur, tumpukan sampah kulit kerang bisa diubah menjadi produk kerajinan tangan yang bernilai jual.Semuanya berawal ketika Nur dan sang suami Jamie Taguba melihat banyak tumpukan sampah kulit kerang di pinggir pantai.Nah dari situ ia bersama sang suami berencana untuk memanfaatkan sampah kulit kerang untuk diolah menjadi barang pajangan yang indah.Bisnisnya yang bernama Multi Dimensi  Shell Craft didirikan pada tahun 2000.Untuk membuat suatu product kerajinan, terlebih dahulu kulit kerang harus dicuci bersih sebelum akhirnya siap pakai.Tahapan selanjutnya adalah tahap pengolahan dan desain sesuai dengan yang diinginkan. Agar kulit kerang bisa kuat, dibutuhkan material tambahan sebagai penyangga. Biasanya berupa besi, alumunium, dan fiber glass.

Salah satu alasan khusus mengapa Nur menekuni bisnisnya ini adalah untuk menekan jumlah sampah kulit kerang yang berserakan di pinggir pantai.Nur mendapat pasokan sampah kulit kerang dari para nelayan yang ada di utara Jawa. Untuk setiap ton kulit kerang dibeli dengan harga Rp 1,5 juta.Hal ini tentu bisa jadi pendapatan tambahan bagi para nelayan yang pekerjaan utamanya mencari ikan.Setelah dicuci bersih, selanjutnya kulit kerang dikirim ke Jalan Astapada Kavling 130, Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Sampah kulit kerang ini bisa dibuat menjadi barang pajangan antik seperti lampu, vas bunga, piring, kursi, meja, dan lain-lain.Dalam proses desain sampah kulit kerang, Nur dibantu oleh para pemuda yang ada di sekitar rumahnya.Ia sendiri sama sekali tak punya basic sebagai pengrajin kulit kerang. Ia hanya sarjana jurusan matematika dan bekerja sebagai PNS. Dan sang suami sendiri Jamie Taguba bekerja sebagai kontraktor dan mekanik.

Usahanya kian melejit ketika piring dan vas bunga yang dibuat dari kulit kerang dilirik oleh Pemerintah Daerah Cirebon.Permintaan yang datang semakin meningkat dan Nur semakin menunjukkan kemampuannya dalam mendesain sampah kulit kerang.Kemampuan itu ia dapatkan dari masukkan berbagai kalangan, salah satunya dari para pembeli baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar.Berangkat dari masukan itu ia mulai berani memvariasikan produknya seperti lampu gantung, dan barang pajangan lain yang bernilai jual tinggi.

Nur mengaku bahwa ia dan sang suami nekat membangun bisnis dari sampah kulit kerang dengan modal yang sedikit. Mereka hanya mengandalkan aset yang dimiliki seperti pesawat telepon dan mobil bak.Dalam hal ini aset tersebut tidak dijual, melainkan dimanfaatkan secara langsung.Untuk lebih fokus dalam pengembangan bisnis Multi Dimensi Shell Craft, Nur dan sang suami memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

Di awal usahanya, proses pemasaran produk kerajinan dari kulit kerang hanya mengandalakan jaringan pertemanan yang cukup luas dari sang suami.Harga yang ditawarkannya pun masih dalam harga promosi.Selain itu, Nur dan sang suami juga mulai mengikuti berbagai kegiatan pameran dengan tujuan memperkenalkan produk mereka.

Nur handiyah J Taguba menuturkan bahwa rata-rata setiap bulannya ia dan suami mampu mengirimkan 4 kontainer barang pajangan yang dibuat dari kulit kerang ke berbagai negara Uni Eropa. Diantaranya yaitu Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Jerman.Selain di Eropa, barang kerajinan milik Nur juga dikirimke berbagai negara lain seperti Amerika Serikat dan pasar Timur Tengah, mencakup Kuwait, Bahrain, Irak, dan Arab Saudi.Pengiriman barang juga dilakukan untuk negara Jepang dan Thailand, bahkan sampai ke beberapa negara di benua Afrika.


sumber: https://www.hidupcu.com/2018/09/tokoh-wirausahawan-di-bidang-kerajinan-yang-sukses.html?m=1
https://indonesiaproud.wordpress.com/2010/06/21/nur-handiah-jaime-taguba-meraup-dollar-dari-kulit-kerang/



Fauziah, pengusaha sukses dari kain songket

                                    Fauziah
Salah satu wirausahawan di bidang tekstil yang berhasil adalah Fauziah. Beliau adalah wirausahawan kain songket yang memiliki pusat di Palembang. Wanita yang lahir pada tahun 1957 ini mewarisi keahlian dan usaha membuat kain songket dari orang tuanya. Oleh karena usaha ini cukup mudah serta tak butuh biaya yang besar, beliau memulai bisnis ini.

Awalnya hanya meneruskan usaha kedua orang tuanya. Sempat terhenti juga karena terbentur modal. Namun, karena niatnya yang besar beliau akhirnya berhasil mendapat kucuran dana dari PLN sebesar 21 juta sehingga usahanya bisa terus berjalan sampai sekarang. Saat ini, songket yang dihasilkan rumah produksi Fauziah adalah yang terbaik di Palembang.

Dia juga sudah tak perlu repot-repot lagi untuk melakukan pemasaran karena orang-orang sendiri yang datang ke gerainya. Menurut Fauziah sendiri, kualitas itu penting. Oleh sebab itu, beliau selalu menjaga dan menekankan pada karyawannya untuk benar-benar menjaga kualitas kain songekt dengan cara melakukan pembinaan langsung pada para pengrajinnya.

Saat ini, Fauziah sudah memiliki 15 orang pengrajin yang menjadi karyawannya. Harga kain songket yang diproduksi juga tak terlalu mahal, hanya berkisar 1 hingga 4 juta rupiah saja, standar harga kain songket biasanya. Dalam sehari, saat ini Fauziah mampu menjual hingga 40 buah kain songket.

Dari hasil penjualan tersebut, rata-rata Fauziah mampu meraih laba bersih hingga 100 juta rupiah per bulannya. Selain kain, Fauziah juga membuat songekt tersebut menjadi baju untuk mengatasi saat-saat penjualan kain songket menurun. Sampai saat ini, kain songket yang diproduksi di sini sudah sampai ke Jakarta dan Medan.

 Michael X MIPA-2
https://portal-uang.com/2018/11/wirausahawan-sukses-di-bidang-kerajinan.html

Tugas PKWU Kel.5