Rabu, 26 Agustus 2020

 

Ragam material dan Teknik produksi

Nama:Adhika john khu

No absensi:01

No

Bahan baku

Ragam teknik

Contoh gambar

1

Bambu

pilin

Anyam

 

 








2

Tanah liat

Teknik putar

pemanasaan

 






3

Biji bijian

Teknik penembelan

 


Rabu, 05 Agustus 2020

Kisah Sukses Sunny Kamengmau, Pendiri Tas Robita



Mengenal Sunny Kamengmau

Secara umum, bangku sekolah memang mengantarkan seorang individu untuk dapat meraih kesuksesan di kemudian hari yang tentu saja diimbangi dengan niat yang positif untuk mau berkembang dan maju. Namun, hal ini tidak berlaku bagi seorang yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, Sunny Kamengmau.

Pada usia 18 tahun, ia tidak menampatkan bangku sekolah SMA-nya. Sunny Kamengmau jenuh dengan pendidikan di sekolah pada saat itu. Dengan berbekal ijazah terakhir SMP-nya, ia merantau ke Pulau Bali

Di Bali, Sunny Kamengmau bekerja serabutan. Ia mau melakukan berbagai hal, diantaranya adalah buruh cuci mobil dan juga buruh renovasi rumah. Sampai pada akhirnya, ia bekerja menetap di sebuah Hotel bernama Un’s Hotel yang terletak di Jalan Benesari, Legian, Kuta. Di tempat itu, ia bekerja sebagai tukang kebun selama satu tahun sebelum dipindahkan dan naik pangkat menjadi petugas keamanan atau security pada tahun 2000.

Sunny Kamengmau senang bergaul dengan para tamu hotel di Un’s Hotel dan hal ini membuatnya tertarik untuk mempelajari bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Bahkan, dengan gajinya yang hanya Rp50 ribu, ia membelikannya sebuah kamus Bahasa Inggris. Ia melihat peluang tersendiri dari pekerjaannya sebagai security di hotel tersebut.

Kemauannya yang tinggi untuk belajar bahasa asing sangat menolongnya dalam memiliki relasi dengan para tamu hotel hingga pada suatu kesempatan, ia mendapatkan peluang bisnisnya melalui pertemuannya dengan Nobuyuki Kakizaki, seorang pengusaha dan pemilik dari Real Point Inc asal Jepang.

Memulai Bisnis Tas Robita

Berkat kefasihannya dalam berbahasa Jepang, Sunny Kamengmau bersahabat dengan Nobuyuki Kakizaki. Persahabatan mereka selama 5 tahun membuat mereka untuk bekerja sama sebagai partner usaha pembuatan tas.

Mereka bekerja sama untuk membuat tas handmade di Indonesia yang akan di ekspor ke negeri asal Nobuyuki Kakizaki di Jepang. Mereka memilih produk handmade dikarenakan peminatan yang besar dari para konsumen di Jepang yang lebih menyukai produk handmade daripada tas produksi pabrik

Pada awal bisnis yang mereka jalani, Nobuyuki Kakizaki sering mengajaknya untuk membeli berbagai barang kerajinan tangan dan aksesoris di toko dan dijual kembali di Jepang. Sunny Kamengmau belajar banyak hal dari persahabatannya dengan Nobuyuki Kakizaki. Ia belajar untuk memilih berbagai barang  yang berkualitas dan cara mengirim barang ke Jepang. Saat itu, pekerjaan sebagai security di malam hari tidak ditinggalkan oleh Sunny Kamengmau.

Sunny Kamengmau dan Nobuyuki Kakizaki menamai usaha tas kulit mereka tersebut dengan nama Tas Robita dikarenakan kesukaan Nobuyuki Kakizaki terhadap karakter Nobita di serial kartun Doraemon.

Perkembangan Usaha Tas Robita

Pada awal produksi Tas Robita, tidak banyak calon konsumen yang ingin memesan produk tersebut. Pemesanan pertama kali berasal dari Jepang dan hanya belasan yang dijual dengan omzet sebulan yang tidak menentu.

Namun, semangat mereka tidak pernah padam hingga bisnis mereka berkembang dan pada tahun 2007, produksi Tas Robita mencapai 5.000 tas setiap bulannya dan pada tahun 2009, Sunny Kamengmau bersama rekannya Nobuyuki Kakizaki merekrut setidaknya 300 orang karyawan. Suatu peningkatan usaha yang cukup signifikan karena pada saat awal mereka mendirikan bisnis Tas Robita pada tahun 2003, mereka hanya memiliki 20 karyawan saja.

Pengalaman Tak Terbayangkan dari Sunny Kamengmau
Sunny Kamengmau sempat mengungkapkan bahwa pengalamannya bersama Nobuyuki Kakizaki dalam merintis usaha tersebut tidaklah terbayangkan sebelumnya. Sunny Kamengmau, seorang security memulai usaha tersebut tanpa modal, bahkan ia sendiri saat itu masih menyewa motor dan juga memiliki utang yang menumpuk. Namun jerih lelah mereka terbayarkan melalui niat usaha yang positif dan semangat yang tidak pernah padam sehingga ia mampu bangkit untuk mencapai kesuksesan.

Brian Teo
Sumber: www.finansialku.com

Dhowo Art

Dhowo Art – Jika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Itulah satu hal yang bisa kita ambil pelajaran dari Yully Widianto, seorang pengrajin lampu asal Yogyakarta yang memiliki Dhowo Art. Dhowo Art adalah bisnis Yully di bidang kerajinan lampu hias dekorasi yang telah sukses hingga memembuas pasar Eropa.

Lalu seperti apakah bisnis pria yang hobi mendalami seni lukis ini

Tak bisa dielakkan, terjunnya Yully ke dunia bisnis terjadi karena sebuah faktor kepepet (terdesak). Ya, ketika itu Yully harus berhenti kuliah di Modern School of Design (MSD) Yogyakarta karena terkendala biaya.

Tertutupnya peluang studi yang kemudian dibarengi situasi kepepet inilah yang kemudian mendorong Yully memutuskan untuk menjajal peruntungannya di dunia usaha. Karena ia senang pada kesenian mendesain, maka pada tahun 1998 Yully membuka bisnis seni interior Dhowo Art yang memproduksi lampu dekorasi unik untuk di dalam ruangan dan luar ruangan.

Artikel lain: Arshend Leather ~ Gelang Kulit Asli Indonesia Yang Telah Mendunia

Usaha Awal Dhowo Art
Dengan modal hasil penjualan lukisan, tabungan dan pinjaman dana dari BUMN sebesar Rp 6 juta, Yully pun mantap untuk membangun Dhowo Art di Yogyakarta. Modal itu kemudian digunakan Yully untuk membeli bahan baku lampu dekorasi yang terbuat dari bahan pasir pantai, serbuk batu, pasir besi, bambu, rotan, kayu jati, kayu manis hingga kerang simping.

Lampu-lampu produk dari Dhowo Art ini tidak berbentuk seperti lampu pada umumnya, namun ia memiliki bentuk, ukuran dan warna yang unik dan berbeda dari lampu pada umumnya. Lampshades dan lampstand adalah beberapa produk lampu dekorasi Dhowo Art yang memiliki desain yang unik dan kreatif.

Selain lampu dekorasi, Dhowo Art juga memproduksi hasil kerajinan lain seperti meja, kursi, cermin dan lampu rumah dengan bahan baku yang ambil dari alam seperti rotan, bambu, atau kayu jati. Bahan alam lainnya seperti kayu manis, biji aren dan lainnya dia gunakan sebagai aksesori untuk mempercantik produk buatannya. Harga jual produk Dhowo Art sendiri ke konsumen antara Rp 150.000 hingga Rp 1,5 juta per unit, tergantung bahan baku dan ukuran serta kesulitan pembuatan produk.

Hambatan Usaha dan Strategi Pemasaran Dhowo Art
Pada awal usahanya, Yully mengakui bahwa produk buatannya pernah ditolak oleh beberapa galeri di Jakarta. Dia juga sempat mendapatkan konsumen yang tidak kooperatif karena susah ditagih pembayaran sehingga mempengaruhi pemasukan bisnis Yully yang menjadi tertunda

Referensi Informasi Era Digital
Beranda  Ulasan Bisnis  Dhowo Art: Bisnis Kerajinan Lampu Hias yang Telah Sukses Melenggang Ke Pasar...
Dhowo Art: Bisnis Kerajinan Lampu Hias yang Telah Sukses Melenggang Ke Pasar Eropa
Oleh Asep Irwan

 
Dhowo Art
Dhowo Art – Jika satu pintu tertutup, maka pintu yang lain akan terbuka. Itulah satu hal yang bisa kita ambil pelajaran dari Yully Widianto, seorang pengrajin lampu asal Yogyakarta yang memiliki Dhowo Art. Dhowo Art adalah bisnis Yully di bidang kerajinan lampu hias dekorasi yang telah sukses hingga memembuas pasar Eropa.

Lalu seperti apakah bisnis pria yang hobi mendalami seni lukis ini? Berikut ulasannya.


Table of Contents
Bermula dari Kondisi Kepepet
Usaha Awal Dhowo Art
Hambatan Usaha dan Strategi Pemasaran Dhowo Art
Ekspansi Bisnis Dhowo Art
Bermula dari Kondisi Kepepet
Tak bisa dielakkan, terjunnya Yully ke dunia bisnis terjadi karena sebuah faktor kepepet (terdesak). Ya, ketika itu Yully harus berhenti kuliah di Modern School of Design (MSD) Yogyakarta karena terkendala biaya.

Tertutupnya peluang studi yang kemudian dibarengi situasi kepepet inilah yang kemudian mendorong Yully memutuskan untuk menjajal peruntungannya di dunia usaha. Karena ia senang pada kesenian mendesain, maka pada tahun 1998 Yully membuka bisnis seni interior Dhowo Art yang memproduksi lampu dekorasi unik untuk di dalam ruangan dan luar ruangan.

Artikel lain: Arshend Leather ~ Gelang Kulit Asli Indonesia Yang Telah Mendunia

Usaha Awal Dhowo Art
Dengan modal hasil penjualan lukisan, tabungan dan pinjaman dana dari BUMN sebesar Rp 6 juta, Yully pun mantap untuk membangun Dhowo Art di Yogyakarta. Modal itu kemudian digunakan Yully untuk membeli bahan baku lampu dekorasi yang terbuat dari bahan pasir pantai, serbuk batu, pasir besi, bambu, rotan, kayu jati, kayu manis hingga kerang simping.

Lampu-lampu produk dari Dhowo Art ini tidak berbentuk seperti lampu pada umumnya, namun ia memiliki bentuk, ukuran dan warna yang unik dan berbeda dari lampu pada umumnya. Lampshades dan lampstand adalah beberapa produk lampu dekorasi Dhowo Art yang memiliki desain yang unik dan kreatif.

Selain lampu dekorasi, Dhowo Art juga memproduksi hasil kerajinan lain seperti meja, kursi, cermin dan lampu rumah dengan bahan baku yang ambil dari alam seperti rotan, bambu, atau kayu jati. Bahan alam lainnya seperti kayu manis, biji aren dan lainnya dia gunakan sebagai aksesori untuk mempercantik produk buatannya. Harga jual produk Dhowo Art sendiri ke konsumen antara Rp 150.000 hingga Rp 1,5 juta per unit, tergantung bahan baku dan ukuran serta kesulitan pembuatan produk.

Hambatan Usaha dan Strategi Pemasaran Dhowo Art
Pada awal usahanya, Yully mengakui bahwa produk buatannya pernah ditolak oleh beberapa galeri di Jakarta. Dia juga sempat mendapatkan konsumen yang tidak kooperatif karena susah ditagih pembayaran sehingga mempengaruhi pemasukan bisnis Yully yang menjadi tertunda.


Meski dilanda berbagai hambatan dan permasalah Yully tak putus asa. Agar produknya tetap diminati pasar, Yully rajin berinovasi produk dengan memadukan model lawas dengan model terkini yang sedang tren dalam produk-produk hasil karyanya.

Pria 38 tahun ini pun kemudian mencoba berbagai cara dan #startegi pemasaran. Salah satu strategi yang kemudian menjadi andalannya adalah pameran. Ya, ajang pameran yang ditawarkan oleh Pemerintah kota setempat ini dimanfaatkan oleh Yully untuk mempromosikan produk Dhowo Art hasil kreasinya. Strategi ini terbukti sangat efektif karena dari keaktifan Yully mengikuti pameran kerajinan tangan, produknya bisa dikenal dan dipasarkan dengan cepat dan luas.

Ekspansi Bisnis Dhowo Art
Karena strategi pemasarannya yang efektif inilah, produk Dhowo Art kemudian banyak dikenal dan diminati oleh kalangan korporasi seperti restoran, kafe, apartemen dan hotel untuk penerangan sekaligus dekorasi ruangan.

Rata-rata pemesanan lampu Dhowo Art sendiri dari para pelanggannya tersebut mencapai 300 unit sampai 500 unit per bulan. Perkembangan usaha kerajinan ini semakin meluas ketika ekspansinya merambah pasar luar negeri. Berawal dari keikutsertaan Yully pada pameran di Dubai yang diselenggarakan oleh pemerintah, tak dinyana produk Dhowo Art banyak diminati oleh pembeli di luar negeri.

Saat ini sendiri Dhowo Art telah berhasil memasarkan produknya ke beberapa negara di Asia, Eropa dan Timur Tengah. Pembelinya dari luar negeri ini rata-rata memesan produk sekitar 200 unit hingga 600 unit dengan digabung produksi teman-teman UKM lain.

Dhowo Art Saat Ini

Untuk memenuhi permintaan yang datang, saat ini bisnis ini memiliki dua showroom di Nitikan, Umbul Harjo, Yogyakarta untuk kegitan produksi dan satu lagi di Jl Gejayan, Yogyakarta yang digunakan sebagai tempat pameran dan melayani pembelian. Kedua showroom ini dilengkapi gudang menyimpan persediaan barang dan memenuhi pembelian dalam jumlah banyak.

Dengan dibantu delapan pekerja, dalam satu bulan Yully mampu memproduksi 300 unit sampai 500 unit lampu. Jika sedang tidak ada pesanan, biasanya Yully membuat dua unit lampu dengan model yang sama sebagai persediaan untuk dipajang di showroom. Tak mengherankan bila Yully saat ini telah mampu meraup omzet hingga Rp 100 juta per bulan dari berbisnis kerajinan ini.

Nama:Yoel dwika
Sumber: https://www.maxmanroe.com/dhowo-art.html

Andre Prasetyo -Fernando William Alexander

Selasa, 04 Agustus 2020

Bob sadino


Banak orang yang merasa kehilangan saat mendengar kematian dari Bob Sadino. Bagaimana tidak, dia merupakan kisah inspiratif pebisnis sukses di Indonesia. Di Badan Usaha Milik Negara Bob bekerja selama 9 tahun, dari situlah dia memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha. Dia memulai usahanya dengan persewaan mobil yang dia sendiri menjadi sopirnya. Bisnisnya mati tidak berkembang karena saat menyopiri pelanggan dia mengalami kecelakaan.

Sebagai buruh bangunan juga pernah di jalankan dengan upah harian. Tetapi dengan insting yang kuat dari Bob Sadino, dengan modal sedikit dari tetangganya yang memberikan pinjaman, maka iya mencoba jualan telur ayam negeri.

Inilah kisah inspiratif pebisnis sukses dimulai, Bob berjualan dari pintu ke pintu rumah. Usahanya pun berbuah manis. Dalam kawasan kemang, Jakarta Selatan Bob sukses menjual telur-telurnya. Kem-Chicks tempat yang dibangun Bob untuk memasarkan produk peternakan dan pertanian yang dia hasilkan tanpa harus door to door lagi. Sampai saat ini tempat itu terkenal akan produk unggulannya.

Untuk menjadi seorang pebisnis atau pengusaha yang sukses tidak harus membutuhkan modal yang banyak. Modal bukanlah masalah karena yang paling penting yaitu niat dan pantang menyerah. Kisah inspiratif pebisnis sukses di atas tentu sudah bisa dijadikan motivasi untuk Anda yang ingin membuka bisnis. 

Kapan mau maju? Kalau modal menjadi keraguan kita saat memulai bisnis. Ingatlah sebuah kata-kata dari Bob Sadino yang dapat meningkatkan semangat usaha kita : “ bisnis yang dimulai merupakan bisnis yang berprospek cerah, bukan ditanyakan terus!”.


Boni santana

Sumber : https://idcloudhost.com/5-tokoh-kisah-inspiratif-pebisnis-sukses-menjadi-pengusaha-sukses/

Tugas PKWU Kel.5