Rabu, 29 Juli 2020

Ibnu Riyanto , Kisah Seorang Wirausaha Kerajinan Yang Sukses

NAMA:MARCELLO YOHANES T/ X MIPA 2 
Ibnu Riyanto.


Kisah Sukses Ibnu Riyanto, Pengusaha Batik dan Pemilik Rekor MURI
Biodata: 
           
        Namanya Ibnu Riyanto asal Cirebon, Jawa Barat. Usianya belum menginjak 30 tahun, namun sudah cukup sukses sebagai pengusaha batik. Keberhasilan Ibnu dibuktikan dengan berbagai penghargaan dan pencapaian usaha batik yang dimilikinya.




Kisahnya:
   
          Salah satu penghargaan yang sangat berkesan berasal dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pemilik toko batik terbesar dan terluas pada usia termuda (23 tahun).

Meski sudah meraih kesuksesan di usia muda, Ibnu tak langsung besar kepala. "Saya tidak mau seperti dinosaurus, ketika sudah besar kemudian punah," ungkapnya saat ditemui team Berita BCA belum lama ini di toko Batik Trusmi, Desa Trusmi, Plered, Cirebon.

Bagi Ibnu, usia muda adalah kesempatan untuk terus melakukan eksplorasi kemampuan diri dan semakin tertantang untuk meraih yang belum bisa dicapainya.
 
"Mumpung masih muda dan masih cukup banyak energi, saya akan terus mengembangkan diri. Saya memang tipe orang yang  tidak mudah puas dengan apapun yang sudah saya capai," kata Ibnu.

Meski berasal dari keluarga pembatik, Ibnu membangun usahanya sendiri benar-benar dari nol. Ibnu mulai merintis usaha tahun 2006 ketika usianya 17 tahun dengan menjadi suplier kain mori yakni bahan baku batik berupa kain putih.

Dengan modal awal Rp 15 juta, Ibnu menawarkan kain mori ke perajin-perajin batik di desa kelahirannya, Trusmi Kabupaten Cirebon.

"Dulu saya bandel. Lulus SMA saya langsung menikah. Saya ingin membuktikan kepada orang tua kalau saya mampu mandiri. Begitu punya tanggungan istri, saya jadi bersemangat untuk memulai usaha sendiri. Saat itulah, pertama kali saya menjadi nasabah bank ya BCA," katanya.

Keuntungan menjadi suplier kain mori hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya sehari-hari, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah mempunyai anak, Ibnu merasa harus bisa meningkatkan usahanya untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Memanfaatkan ruang tamu rumah orang tuanya yang berukuran 4 x 4 meter persegi di tahun 2007, Ibnu yang memiliki 2 anak ini pun mulai menjual batik. Tak berhenti di "toko" saja, Ibnu pun gigih memasarkan batik dagangannya secara door to door dari satu toko ke toko yang lain di Jakarta, Bandung dan kota-kota lain.

Ketika memasarkan batik dagangannya, tak jarang Ibnu harus tidur di masjid demi mengirit uang yang harus diputarnya untuk mengembangkan usaha. Ya, meraih sukses memang tak semudah membalikkan tangan butuh perjuangan dan pengorbanan.

Beruntung satu toko di salah satu pusat perbelanjaan teramai di Jakarta mau membayar lunas dagangannya sebesar Rp25 juta. Pencapaian itu membuatnya semakin bersemangat dan percaya diri hingga semakin ulet memasarkan batiknya.

Seiring dengan semakin laris dagangan batiknya, Ibnu pun membuka usaha konveksi sendiri dan berkat ketekunannya, Ibnu mampu membuka toko batik yang diberinya nama Batik Trusmi mengikuti nama desa penghasil batik ternama di Cirebon. Usahanya membangun bisnis akhirnya mendapat penghargaan rekor MURI pada 25 Maret 2013 lalu.



Source:   https://www.liputan6.com/berita-bca/read/2213590/kisah-sukses-ibnu-riyanto-pengusaha-batik-yang-masuk-rekor-muri

NAMA

Tidak ada komentar:

Tugas PKWU Kel.5